Review Harvest Moon: Back to Nature

Di tahun 2000, Natsume merilis iterasi terupdate dari game simulasi pertanian mereka, Harvest Moon. Dalam game berjudul Harvest Moon: Back to Nature yang dirilis di PlayStation itu, seri Harvest Moon menjadi betul-betul populer di Indonesia padahal sebelumnya dapat dibilang Harvest Moon itu termasuk klasifikasi game yang tak mainstream. Seri yang memiliki judul absah Bokujou Monogatari di Jepang ini dapat betul-betul populer sebab memang mengasyikan untuk dimainkan dan digemari oleh gamer baik lelaki maupun perempuan.

Bagi kamu yang mungkin belum ketahui dengan Harvest Moon: Back to Nature, game ini yakni sebuah game yang menempatkanmu pada posisi seorang pemuda yang mewarisi perkebunan dan peternakan milik almarhum kakeknya di sebuah kota kecil bernama Mineral Town. Warisan yang terbengkalai ini sudah ditinggal cukup lama dalam situasi semrawut, dan kamu sebagai pewaris diberikan kans oleh walikota Mineral Town untuk membetulkannya ke kejayaan semula. Segala ini mesti dapat kamu capai dalam waktu tiga tahun saja, dan jikalau sampai kamu tak dapat memenuhi syarat-syarat yang diminta, kamu akan diperintah meninggalkan kota hal yang demikian.

Lalu jikalau memang game ini populer di kalangan beragam gamer dan juga memiliki tema tentang membangun sebuah pertanian, kenapa saya sebutkan game ini sebagai sebuah simulasi kapitalisme dan perbudakan? Peroleh jawabannya di pembahasan komplit di bawah ini.

Game Besar Dengan Ukuran Kecil Atau Cuma Ilusi Gameplay Saja?

Beberapa minggu lalu Sony mengadakan diskon besar-besaran rutin mereka di PlayStation Store. Di antara beragam game yang didiskon, terdapat Harvest Moon: Back to Nature yang dipasarkan seharga $ 0,99 saja! Kontan saya lantas beli game ini, toh dulu slot deposit qris 5000 saya menghabiskan Rp 5000 untuk versi bajakannya, dan kini saya cuma perlu mengeluarkan Rp 12.000 untuk versi aslinya. Setelah membeli game hal yang demikian, sebab sudah didesak oleh kakak saya karenanya saya lantas mendownload game ini (bukan, ini bukan yang dimaksud dengan simulasi perbudakan) dan lantas terkejut dibuatnya. Ukuran file yang mesti saya download dari PlayStation Store hanyalah 60 MB saja! Bayangkan saja game yang memiliki playtime puluhan atau malahan ratusan jam (sebenarnya playtime game ini tanpa batas sih) memiliki ukuran yang sama dengan sebuah album musik dengan kwalitas bunyi menengah.

Setelah melihat kembali dengan lantas gameplay dari Harvest Moon: Back to Nature, saya lantas ingat bahwa sebenarnya tak terlalu mengagetkan jikalau Harvest Moon yang dirilis di PlayStation ini memiliki ukuran kecil. Meskipun playtime yang dimiliki sangatlah tinggi, hal yang mesti pemain lakukan di Harvest Moon dapat dibilang sangatlah repetitif. Setiap hari hal yang mesti kamu lakukan hanyalah bercocok tanam, mengurus ternak, dan bersosialisasi. Segala ini mesti kamu lakukan sambil menjaga kesehatan karaktermu. Meskipun begitu terkadang ada beragam event spesial yang dapat kamu ikuti.

Tentang Penulis

admin7